Fenomena kartu Pokémon kini telah berubah jauh dari sekadar hobi masa kecil menjadi pasar koleksi bernilai tinggi yang dipenuhi investor, reseller, hingga spekulan. Dulu, pada akhir 1990-an, kartu Pokémon identik dengan aktivitas tukar-menukar antar teman demi melengkapi koleksi atau mendapatkan kartu hologram langka. Namun dalam beberapa tahun terakhir, situasinya berubah drastis. Banyak toko kini dipenuhi antrean panjang setiap kali stok baru dirilis, bahkan ada orang yang membeli dalam jumlah besar hanya untuk dijual kembali dengan harga lebih mahal.
Popularitas kartu Pokémon melonjak tajam sejak pandemi dan kebangkitan kembali franchise Pokémon melalui game seperti Pokémon Go serta konsol Nintendo Switch. Nostalgia generasi milenial yang tumbuh bersama Pokémon ikut mendorong permintaan. The Pokémon Company juga terus merilis set kartu baru yang menghadirkan karakter klasik era 90-an sehingga menarik minat kolektor lama maupun pemain baru.
Menurut indeks Collectors yang memiliki lembaga grading kartu PSA, harga kartu Pokémon meningkat sekitar 282% dari 2004 hingga 2020. Setelah 2020, kenaikannya bahkan mencapai sekitar 1.350%. Pertumbuhan ini membuat kartu Pokémon dianggap sebagai aset investasi alternatif yang mampu mengalahkan beberapa instrumen investasi tradisional.
Lonjakan harga semakin diperparah oleh penjualan kartu bernilai fantastis. Salah satu yang paling terkenal adalah kartu Pikachu Illustrator milik Logan Paul yang terjual lebih dari US$16 juta pada 2025 setelah sebelumnya dibeli sekitar US$5 juta pada 2021. Penjualan besar seperti ini memicu anggapan bahwa siapa pun bisa mendapatkan keuntungan besar dari kartu Pokémon.
Banyak pelaku pasar baru berasal dari komunitas cryptocurrency. Mereka mengalihkan keuntungan crypto ke kartu Pokémon karena dianggap sebagai aset koleksi bernilai tinggi yang terus naik. Di media sosial seperti X dan Discord, kartu Pokémon kini sering dibahas layaknya saham, lengkap dengan analisis harga, tren pasar, hingga prediksi kenaikan nilai.
Fenomena ini melahirkan praktik “scalper”, yaitu orang-orang yang membeli stok kartu dalam jumlah besar hanya untuk dijual kembali dengan harga lebih mahal. Para penggemar Pokémon menganggap scalper merusak ekosistem koleksi karena membuat produk cepat habis di pasaran. Banyak toko online bahkan mengalami crash atau gangguan checkout akibat tingginya trafik dan penggunaan bot otomatis oleh reseller.
Akibatnya, produk yang dijual resmi dengan harga normal bisa melonjak berkali-kali lipat di marketplace seperti eBay. Misalnya, kotak kartu Elite Trainer Box yang dijual resmi sekitar £55 dapat dijual kembali lebih dari £100 hingga £300. Beberapa seri populer bahkan mencapai lebih dari £450.
Meski pasar dipenuhi investor dan reseller, kolektor murni tetap menjadi bagian penting dalam komunitas Pokémon. Banyak orang masih membeli kartu untuk melengkapi set koleksi, mencari karakter favorit, atau bernostalgia dengan masa kecil mereka. Acara komunitas dan pameran kartu juga semakin sering bermunculan, menunjukkan bahwa budaya koleksi Pokémon masih hidup di luar tren investasi.
Para analis menilai pasar kartu Pokémon saat ini memiliki unsur “bubble” atau gelembung spekulatif karena harga bergerak sangat cepat dan dipengaruhi hype. Namun di sisi lain, tingginya minat kolektor global membuat pasar ini diperkirakan masih akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
